Pengunjung

Pages

Selasa, 02 Juli 2013

Psikologi Pendidikan

B.     Teori–Teori Belajar
Secara pragmatis, teori belajar dapat dipahami sebagai prinsip umum atau kumpulan prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar. Dan untuk lebih memahami dan mengenal masalah belajar, maka akan di uraikan beberapa teori belajar yang telah dikemukakan oleh para ahli Psikologi. (Haryu Islamuddin, Psikologi Pendidikan, Jember: STAIN Jember Press,  2011, hlm 59-60)
1.      Teori Belajar Psikologi Behavioristik.
Teori belajar Psikologi Behavioristik yang dikemukakan oleh para tokoh Psikologi Behavioristik, sering disebut dengan “Contemporary behaviorists” atau biasa juga  disebut “S-R psychologists”.
Mereka berpendapat bahwa, tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (reward) dan penguatan (reinforcement) dari lingkungan.
Dengan demikian, dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulusnya. Jadi dapat kita simpulkan, bahwa teori Behavioristik menekankan pada terbentuknya tingkah laku yang nampak sebagai hasil dari proses belajar.(Haryu Islamuddin, Psikologi Pendidikan, Jember: STAIN Jember Press, 2011, hlm 61).
7
a.       Teori-Teori yang Mengawali Perkembangan Psikologi Behavioristik
Psikologi aliran behavioristik mulai mengalami perkembangan dengan lahirnya teori-teori tentang belajar yang dipelopori oleh Thorndike, Paviov, Wabon, dan Ghuthrie. Mereka masing-masing telah mengadakan penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang berharga mengenai hal belajar.
Pada mulanya, pendidikan dan pengajaran di Amerika Serikat di dominasi oleh pengaruh dari Thomdike (1874-1949). Teori belajar Thorndike disebut “Connectionism”, karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respons. Teori ini sering pula disebut “Trial-and error learning”. Individu yang belajar melakukan kegiatan melalui proses “trial-and-error learning” dalam rangka memilih respons yang tepat bagi stimulus tertentu. Thorndike mendasarkan teorinya atas hasil-hasil penelitiannya terhadap tingkah laku berbagai binatang antara lain: kucing, tingkah laku anak-anak, dan orang dewasa. Jadi, Thorndike berkesimpulan bahwa belajar adalah terjadinya hubungan antara stimulus dan  respons.
Objek penelitian dihadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan membiarkan objek melakukan respons terhadap situasi itu. Dalam hal itu, objek mencoba berbagai cara bereaksi sehingga menemukan keberhasilan dalam membat  koneksi sesuatu reaksi dengan stimulasinya. Ciri-ciri belajar dengan “Trial-and-error learning” yaitu: ada motif pendorong aktivitas, ada berbagai respon terhadap situasi, ada eliminasi respon-respon yang gagal/salah, dan ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan.
Dari penelitiannya ittu, Thorndike menemukan hukum-hukum:
1)      “Law of readiness” (Hukum Kesiapan). Jika reaksi terhadap stimulus didukung oleh kesiapan untuk bertindak atau bereaksi itu, maka reaksi menjadi memuaskan.
2)      “Law of exercise” (Hukum Latihan). Makin banyak dipraktekkan atau digunakannya hubungan stimulus respon, makin kuat hubungan itu. Praktek perlu disertai dengan reward.
3)      “Law of effect” (Hukum Akibat). Hubungan antara stimulus dan respon diperkuat apabila akibatnya memuaskan dan akan melemah apabila akibatnya tidak memuaskan.
Sementara Thorndike mengadakan penelitiannya, di Rusia Ivan Pavlov (1849-1936)
8
juga menghasilkan teori belajar yang disebut  classical conditioning” atau “stimulus substitution”. Teori Pavlov berkembang dari percobaan laboratoris terhadap anjing. Dalam peercobaan ini, anjing diberi stimuli  bersyarat sehingga terjadi reaksi bersyarat pada anjing.
John B. Watson (1878-1958) adalah orang pertama di Amerika serikat yang mengembangkan terori belajar berdasarkan penelitian Pavlov. Watson berpendapat bahwa belajar merupakan proses terjadinya refleks-refleks atau respons-respons bersyarat melalui stimulus pengganti.  Menurut Watson, manusia dilahirkan dengan beberapa refleks dan reaksi-reaksi emosional berupa takut, cinta, dan marah. Semua tingkah laku lainnya terbentuk oleh hubungan-hubungan stimulus-respons baru melalui “conditioning”. Salah satu percobaannya adalah terhadap anak umur 11 bulan dengan seekor tikus putih. Rasa takut dapat timbul tanpa dipelajari dengan proses ekstinksi, dengan mengulang stimuli bersyarat tanpa dibarengi stimuli tak bersyarat.
E. R. Guthrie (1886-1959) memperluas penemuan Watson tentang belajar. Ia mengemukakan prinsip belajar yang disebut “the law of association” yang berbunyi: Suatu kombinasi stimuli yang telah menyertai suatu gerakan, cenderung akan menimbulkan gerakan itu, apabila kombinasi stimuli itu muncul kembali. Dengan kata lain, jika Anda mengerjakan sesuatu dalam situasi tertentu, maka nantinya dalam situasi yang sama Anda akan mengerjakan hal serupa lagi. Menurut Guthrie, belajar memerlukan reward dan kkedekatan antara stimulus dan respon. Guthrie berpendapat bahwa hukuman itu tidak baik dan tidak pula buruk.
b.   Skinner’s Operant Conditioning.
            Seperti halnya Thorndike, Skinner menganggap “reward” sebagai  faktor terpenting dalam proses belajar, Skinner berpendapat, bahwa tujuan psikologi adalah meramal dan mengontrol tingkah laku. (Drs. Wasty Soemanto, M.Pd., Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2006, hlm 123-125)
            Skinner membagi dua jenis reson dalam proses belajar yaitu:
1)      Respondents Respons, yaitu: tingkah laku yang terjadi karena stimulus yang jelas atau respon yang terjadi oleh perangsang-perangsang tertentu.
2)      Operant Response, yaitu: tingkah laku yang ditimbulkan oleh stimulus yang belum
9
diketahui, dan semata-mata ditimbulkan oleh organisme itu sendiri dan belum tentu dikehendaki oleh stimulus dari luar. (Haryu Islamuddin, Psikologi Pendidikan, Jember: STAIN Jember Press, 2011, hlm 80)

2.      Teori Belajar Psikologi Kognitif.
Ada beberapa ahli yang belum merasa puas terhadap penemuan-penemuan para ahli sebelumnya mengenai belajar sebagai proses hubungan stimulus-response-reward. Mereka berpendapat, bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya dikontrol oleh reward. Mereka ini adalah para ahli jiwa aliran kognitifis. Menurut pendapat mereka, tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Dalam situasi  belajar, seseorang terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh insight untuk pemecahan masalah. Jadi, kaum kognitifis berpandangan bahwa tingkah laku seseorang lebih bergantung kepada insight terhadap hubungan-hubungan yang ada di dalam suatu situasi.
a.       Awal Pertumbuhan Teori-Teori Belajar Psikologi Kognitif.
Psikologi kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar Gestalt. Peletak dasar psikologi Gestalt adalah Mex Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving (pemecahan masalah). Sumbangannya ini diikuti oleh Kurt Koffka (1886-1941) yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan; kemudian Wolfgang Kohler (1887-1959) yang meneliti tentang insight pada simpanse. Penelitian-penelitian mereka menumbuhkan psikologi Gestalt yang menekankan bahasan pada masalah konfigurasi, struktur dan pemetaan dalam pengalaman. Kaum Gestaltis berpendapat, bahwa pengalaman itu  berstruktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan.  Orang yang belajar, mengamati stimuli dalam keseluruhan yang terorganisasi, bukan dalam bagian-bagian yang terpisah.
Suatu konsep yang penting dalam psikologi Gestalt adalah tentang “Insight”, yaitu pengamatan/pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Insight itu sering dihubungkan dengan pernyataan spontan “aha” atau “oh, see-now”.
Kohler (1927) menemukan tumbuhnya insight pada seekor simpanse dengan
10
menghadapkan simpanse pada masalah bagaimana memperoleh pisang yang terletak di luar kurungan atau tergantung di atas kurungan. Dalam eksperimen  itu Kohler mengamati, bahwa kadang kala simpanse dapat memecahkan masalah secara mendadak, kadang kala gagal meraih pisang, kadang kala duduk merenungkan masalah, dan kemudian secara tiba-tiba menemukan pemecahan masalah.
Wertheimer (1945) menjadi orang Gestaltis yang mula-mula menghubungkan pekerjaannya dengan proses belajar di kelas. Dari pengamatannya itu, ia menyesalkan penggunaan metode menghafal di sekolah dan menghendaki agar murid belajar dengan pengertian, bukan hafalan akademis.
Menurut pandangan Gestaltis, semua kegiatan belajar (baik pada simpanse maupun pada manusia) menggunakan insight atau pemahaman terhadap hubungan-hubungan, terutama hubungan-hubungan antara bagian dan keseluruhan. Menurut Psiklogi Gestalt, tingkat kejelasan atau keberartian dari apa yang di amati dalam situasi belajar seseorang lebih berperan dari pada dengan hukuman dan ganjaran.
b.      Teori Belajar Cognitive-Field dari Lewin
Bertolak dari penemuan Gestalt Psychology, Kurt Lewin (1892-1947) mengembangkan suatu teori belajar cognitive-field dengan menaruh perhatian kepada kepribadian dan psikologi sosial.
Lewin memandang masing-masing individu berada di dalam suatu medan kekuatan, yang bersifat psikologis. Medan kekuatan psikologis di mana individu bereaksi, misalnya: orang-orang yang ia jumpai, objek materiil yang ia hadapi, serta fungsi-fungsi kejiwaan yang ia miliki.
Lewin berpendapat, bahwa tingkah laku merupakan hasil interaksi antara kekuatan-kekuatan, baik yang dari dalam diri individu maupun dari luar diri individu.
Menurut Lewin, belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan struktur kognitif. Perubahan struktur kognitif itu adalah hasil dari dua macam kekuatan, satu dari struktur medan kognisi itu sendiri, yang lainnya dari kebutuhan dan motivasi internal individu. Lewin memberikan peranan yang lebih penting terhadap motivasi dari pada reward.
11
c.       Teori Belajar Cognitive Developmental dari Piaget
Dalam teorinya, Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak.
Piaget adalah seorang Psikolog Developmental kaena penelitiannya mengenai tahap-tahap perkembangan pribadi serta peubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. Dia adalah salah seorang psikolog suatu teori Komperhensif tentang perkembangan intelegensi atau proses berpikir. Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemampuan mental baru yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan struktur yang memungkinkan individu mengalami penyesuaian diri dengan lingkungan maka Piaget tekanan penyelidikannya lain. Piaget menyelidiki masalah yang sama dari segi  penyesuaian/adaptasi manusia serta meneliti perkembangan intelektual atau kognisi berdasarkan dalil bahwa struktur intelektual  terbentuk di dalam individu akibat interaksi dengan lingkungannya.
d.      Jerome Bruner dengan Discovely Learning-nya
Yang menjadikan dasar ide J. Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif dalam belajar di dalam kelas. Untuk itu Bruner memakai cara dengan apa yang disebutnya Discovery Learning, yaitu dimana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir. Prosedur ini berbeda dengan reception learning atau expository teaching, dimana guru menerangkan semua informasi dan murid harus mempelajari semua bahan/informasi itu.
3.      Teori-Teori Belajar dari Psikologi Humanistik
a.       Orientasi:
Perhatian psikologi humanistik yang terutama tertuju pada masalah bagaimana tiap-tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Menurut para pendidik aliran humanistik penyusunan dan penyajian materi pelajaran harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa.
Tujuan utama para pendidik ialah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya,
12
yaitu membantu masing-masing individu untukk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantunya dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri mereka.
b.      Awal Timbulnya Psikologi Humanistik.
Pada akhir tahun 1940-an muncullah suatu perspektif psikologi baru. Orang-orang yang terlibat dalam penerapan psikologilah yang berjasa dalam perkembangan ini,  misalnya ahli-ahli psikologi klinik, pekerja-pekerja sosial dan konseler, bukan merupakan hasil penelitian dalam bidang proses belajar. Gerakan ini berkembang, dan kemudian dikenal sebagai psikologi humanistik, eksestensial, perceptual, atau fenomenologikal. Psikologi ini berusaha untuk memahami perilaku seseorang dari sudut pelaku, bukan dari pengamat.
Dalam dunia pendidikan, aliran humanistik muncul pada tahun 1960 sampai dengan  1970-an dan mungkin perubahan-perubahan dan inovasi yang terjadi selama dua dekade yang terakhir pada abad 20 ini pun juga akan menuju pada arah ini.
c.       Behaviorisme Versus Humanistik.
Dalam menyoroti masalah perilaku, ahli-ahli psikologi behavioral dan humanistik mempunyai pandangan yang sangat berbeda, perbedaan ini dikenal sebagai freedom determination issue. Para behaviorest memandang orang orang sebagai makhluk reaktif yang memberikan responsnya terhadap lingkungannya. Pengalaman lampau dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Sebaliknya para humanistik mempunyai pendapat bahwa tiap orang itu menentukan perilaku mereka sendiri. Mereka bebas dalam memilih kualitas hidup mereka, tidak terikat oleh lingkungannya.
d.      Tokoh-Tokoh Humanistik.
Ada beberapa tokoh yang menonjol dalam aliran humanistik seperti: Combs, Maslov dan Rogers.
1)      Combs
Combs menyatakan apabila kita ingin memahami perilaku orang kita harus mencoba memahami dunia persepsi orang itu. Apabila kita ingin mengubah perilaku seseorang, kita harus berusaha mengubah keyakinan ata pandangan orang itu, perilaku dalamlah yang dapat
13
 membedakan seseorang dari yang lain. Combs selanjutnya mengatakan bahwa perilaku buruk itu sesunguhnya tak lain hanyalah dari ketidakmauan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya. Apabila seorang guru mengeluh bahwa siswanya tidak mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu, ini sesungguhnya berarti, bahwa siswa itu tidak mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh guru itu. Apabila guru itu memberikan aktivitas yang lain, mungkin sekali siswa akan memberikan reaksi yang positif. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada learning, ialah :
1.      Pemerolehan informasi baru,
2.      Personalisasi informasi, ini pada individu.
Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila subject matter-nya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada subject matter itu; dengan kata lain di individulah yang memberikan arti tadi kepada subject matter itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana caranya membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari subject matter itu; bagaimana siswa itu menghubungkan subject matter itu dengan kehidupannya.
2)      Maslov
Teori ini didasarkan atas asumsi bahwa di dalam diri kita ada dua hal :
1.      Suatu usaha yang positif untuk berkembang,
2.      Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya. Tetapi mendorong untuk maju kearah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri. 
3)      Rogers
Menurut Rogers prinsip-prinsip humanistik antara lain:
1.      Manusia itu mempunyai kemampuan untuk belajar secara alami.
14
2.      Belajar yang signifikan terjadi apabila subject matter dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksudnya sendiri.
3.      Belajar yang menyangkut suatu perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri diaggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
4.      Tugas-tugas belajar yang mengancam diri adalah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.
5.      Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yag berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
6.      Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
7.      Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggung jawab terhadap proses belajar  itu.
8.      Belajar atas inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik  perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
9.      Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas lebih mudah dicapai terutama siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengeritik dirinya sendiri dan penilaian diri orang lain merupakan cara kedua yang penting.
Belajar yang paling berguna secara sosial didalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam dirinya sendiri mengenai proses perubahan itu. (Drs. Wasty Soemanto, M.Pd., Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2006, hlm 123-140)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar